Analisis Kinerja Keuangan PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) Semester I 2026: Laba Melonjak dan Ekspansi Kredit Tetap Solid
PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) mencatatkan peningkatan kinerja yang signifikan sepanjang Semester I 2026. Per 30 Juni 2026, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp182,61 miliar, melonjak 790,42% secara tahunan (YoY) dibandingkan Rp20,51 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan laba tersebut berjalan beriringan dengan ekspansi bisnis yang agresif. Kredit bruto SUPA tumbuh 39,70% secara year-to-date (YTD) menjadi Rp13,44 triliun dari Rp9,62 triliun pada akhir Desember 2025.
Ekspansi kredit tersebut turut mendorong pertumbuhan neraca. Total aset perseroan meningkat 26,89% YTD menjadi Rp27,01 triliun dari Rp21,28 triliun pada akhir 2025.
Highlight H1 2026
Laba bersih SUPA mencapai Rp182,61 miliar, sementara kredit bruto tumbuh 39,70% YTD menjadi Rp13,44 triliun. Di sisi risiko, NPL Gross berada di 1,64%, NPL Net 0,65%, dan CAR mencapai 74,54%.
Ringkasan Kinerja Keuangan SUPA Semester I 2026
Berikut perbandingan sejumlah indikator utama SUPA berdasarkan laporan keuangan interim per 30 Juni 2026.
| Indikator | H1 2026 | Pembanding | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Laba Bersih | Rp182,61 miliar | Rp20,51 miliar | +790,42% |
| Pendapatan Bunga Bersih (NII) | Rp1,01 triliun | Rp665,29 miliar | +51,94% |
| Total Aset | Rp27,01 triliun | Rp21,28 triliun | +26,89% YTD |
| Kredit Bruto | Rp13,44 triliun | Rp9,62 triliun | +39,70% YTD |
| Dana Pihak Ketiga | Rp15,93 triliun | Rp11,83 triliun | +34,67% YTD |
| Rasio CASA | 21,83% | 21,37% | +0,46 ppt |
| NPL Gross | 1,64% | — | Terkendali |
| NPL Net | 0,65% | — | Terkendali |
| NPL Coverage Ratio | 206,05% | — | Tebal |
| CAR | 74,54% | — | Kuat |
Profitabilitas: Laba Bersih Melonjak 790,42%
Pendapatan Bunga dan NII Tumbuh Signifikan
Pendorong utama peningkatan profitabilitas SUPA berasal dari pertumbuhan pendapatan bunga. Sepanjang Semester I 2026, pendapatan bunga mencapai Rp1,50 triliun atau Rp1.499,67 miliar, meningkat 65,80% YoY dari Rp904,49 miliar pada Semester I 2025.
Namun, ekspansi pendanaan juga menyebabkan beban bunga meningkat cukup tinggi. Beban bunga mencapai Rp488,82 miliar, naik 104,36% YoY dari Rp239,20 miliar.
Meski demikian, pertumbuhan pendapatan bunga tetap lebih kuat sehingga pendapatan bunga bersih (NII) meningkat menjadi Rp1,01 triliun, naik 51,94% dari Rp665,29 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan Non-Bunga Ikut Bertumbuh
Kinerja operasional SUPA juga mendapatkan dukungan dari beberapa sumber pendapatan non-bunga, antara lain:
- Pendapatan provisi dan komisi: Rp8,75 miliar, meningkat dari Rp3,29 miliar.
- Penerimaan kembali aset yang telah dihapusbukukan: Rp5,76 miliar.
- Pendapatan operasional lainnya: Rp48,38 miliar, meningkat signifikan dari Rp5,53 miliar.
Kombinasi pertumbuhan pendapatan bunga dan pendapatan operasional lainnya membuat laba operasional meningkat menjadi Rp234,40 miliar, dibandingkan Rp30,80 miliar pada H1 2025.
Setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan sebesar Rp51,79 miliar, laba bersih yang dapat dibukukan SUPA mencapai Rp182,61 miliar. Laba per saham dasar juga meningkat menjadi sekitar Rp5,4 per saham dari Rp0,7 per saham sebelumnya.
Laba Bersih vs Laba Komprehensif
Terdapat perbedaan cukup besar antara laba bersih dan total laba rugi komprehensif. Laba bersih mencapai Rp182,61 miliar, sedangkan total laba rugi komprehensif tercatat Rp90,78 miliar.
Selisih sekitar Rp91,83 miliar terutama berasal dari kerugian yang belum direalisasi atas perubahan nilai wajar aset keuangan yang diklasifikasikan sebagai Fair Value Through Other Comprehensive Income (FVOCI) setelah pajak.
Perubahan nilai wajar tersebut berkaitan dengan pergerakan harga dan yield pasar atas portofolio aset keuangan. Karena merupakan perubahan nilai wajar yang belum direalisasi, pos tersebut berbeda karakter dengan laba operasional yang dihasilkan dari kegiatan bisnis inti.
Struktur Beban Operasional dan Pembentukan CKPN
Ekspansi bisnis dan kredit yang cepat juga diikuti peningkatan sejumlah komponen biaya. Beberapa pos utama antara lain:
- Beban umum dan administrasi: Rp323,32 miliar.
- Pembayaran gaji dan tunjangan: Rp271,42 miliar.
- Pembentukan CKPN aset produktif: Rp251,90 miliar, meningkat dari Rp142,99 miliar.
- Beban operasional lainnya: Rp246,57 miliar.
Peningkatan CKPN perlu dilihat dalam konteks pertumbuhan kredit yang juga sangat cepat. Pembentukan cadangan yang lebih besar menunjukkan adanya upaya perseroan untuk mengantisipasi potensi risiko kredit seiring membesarnya portofolio pembiayaan.
Ekspansi Neraca: Aset dan Kredit
Total Aset Tumbuh 26,89%
Total aset SUPA meningkat dari Rp21,28 triliun pada akhir Desember 2025 menjadi Rp27,01 triliun per 30 Juni 2026. Artinya, terjadi peningkatan sekitar Rp5,72 triliun atau 26,89% YTD.
Sejumlah komponen aset utama perseroan antara lain:
- Obligasi pemerintah: Rp7,12 triliun.
- Efek-efek yang diperdagangkan: Rp3,38 triliun.
- Penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain: Rp900,00 miliar.
- Giro pada Bank Indonesia: Rp867,75 miliar.
- Reverse repo: Rp162,62 miliar.
Struktur tersebut menunjukkan bahwa selain menyalurkan kredit, SUPA masih memiliki eksposur yang cukup besar pada instrumen keuangan dan aset likuid.
Kredit Bruto Tumbuh Hampir 40%
Kredit bruto SUPA meningkat 39,70% YTD, dari Rp9,62 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp13,44 triliun per 30 Juni 2026.
Dari total tersebut, kredit kepada pihak ketiga mencapai sekitar Rp13,34 triliun, sedangkan kredit kepada pihak berelasi sebesar Rp91,28 miliar.
Komposisi Kredit Berdasarkan Penggunaan
| Jenis Kredit | Nilai | Porsi |
|---|---|---|
| Kredit Modal Kerja | Rp7,03 triliun | 52,30% |
| Kredit Konsumen | Rp5,14 triliun | 38,29% |
| Kredit Investasi | Rp80,13 miliar | 0,60% |
| Total Kredit Bruto | Rp13,44 triliun | 100% |
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa portofolio kredit SUPA sangat terkonsentrasi pada kredit modal kerja dan kredit konsumen. Jika digabungkan, kedua segmen tersebut mencakup sekitar 90,59% dari total kredit bruto.
Distribusi Kredit Berdasarkan Sektor Ekonomi
| Sektor | Nilai Kredit | Lancar | Non-Lancar |
|---|---|---|---|
| Jasa Dunia Usaha | Rp5,77 triliun | Rp5,77 triliun | Rp8,25 miliar |
| Lain-lain / Konsumen | Rp5,14 triliun | Rp5,14 triliun | Rp957,47 miliar |
| Perdagangan, Restoran & Hotel | Rp825,55 miliar | Rp825,55 miliar | Rp214,89 miliar |
| Pengangkutan, Pergudangan & Komunikasi | Rp511,12 miliar | Rp511,12 miliar | Rp0 |
| Sektor Lainnya | Rp4,12 miliar | Rp1,00 miliar | Rp3,12 miliar |
Struktur Pendanaan dan Dana Pihak Ketiga
DPK Tumbuh 34,67%
Dana Pihak Ketiga (DPK) SUPA meningkat 34,67% YTD menjadi Rp15,93 triliun per 30 Juni 2026, dari Rp11,83 triliun pada akhir 2025.
Namun, struktur pendanaan masih didominasi oleh deposito berjangka.
| Komponen DPK | Nilai | Porsi |
|---|---|---|
| Deposito Berjangka | Rp12,45 triliun | 78,17% |
| Tabungan | Rp3,01 triliun | 18,90% |
| Giro | Rp465,77 miliar | 2,92% |
| Total DPK | Rp15,93 triliun | 100% |
CASA Masih Relatif Rendah
Total dana murah yang berasal dari giro dan tabungan mencapai sekitar Rp3,48 triliun. Dengan demikian, rasio CASA berada di level 21,83%.
Di sisi lain, deposito masih menyumbang 78,17% dari total DPK. Struktur ini penting diperhatikan karena deposito umumnya memiliki biaya dana yang lebih tinggi dibandingkan giro dan tabungan.
Kondisi tersebut turut tercermin pada kenaikan beban bunga SUPA yang mencapai 104,36% YoY. Oleh karena itu, peningkatan CASA menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan untuk melihat potensi efisiensi biaya dana ke depan.
Key Point: Struktur Funding
Pertumbuhan DPK sebesar 34,67% mendukung ekspansi kredit, tetapi tingginya porsi deposito membuat biaya dana menjadi salah satu variabel penting yang perlu dipantau.
Likuiditas dan Arus Kas
Meskipun struktur DPK masih didominasi deposito, arus kas dari aktivitas operasi menunjukkan angka positif. Pada Semester I 2026, arus kas bersih dari aktivitas operasi mencapai Rp2,65 triliun, meningkat dari sekitar Rp1,59 triliun pada H1 2025.
Penerimaan kas operasi terutama berasal dari penerimaan bunga, hasil investasi, serta provisi dan komisi. Perseroan juga mencatat peningkatan bersih simpanan nasabah sekitar Rp4,10 triliun.
Pada akhir periode, kas dan setara kas tercatat sebesar Rp1,98 triliun.
Kualitas Aset dan Manajemen Risiko
NPL Gross 1,64% dan NPL Net 0,65%
Di tengah pertumbuhan kredit yang mendekati 40%, kualitas kredit SUPA masih menunjukkan rasio kredit bermasalah yang relatif rendah. Per 30 Juni 2026, NPL Gross tercatat 1,64%, sedangkan NPL Net berada di 0,65%.
Komposisi kolektibilitas kredit bruto terdiri dari:
- Lancar: Rp12,25 triliun atau sekitar 91,18% dari total kredit.
- Dalam Perhatian Khusus: Rp964,24 miliar.
- Kurang Lancar: Rp99,16 miliar.
- Diragukan: Rp60,12 miliar.
- Macet: Rp61,22 miliar.
NPL Coverage Mencapai 206,05%
Total kredit bermasalah yang terdiri dari kategori kurang lancar, diragukan, dan macet mencapai sekitar Rp220,50 miliar.
Sementara itu, CKPN kredit yang tersedia mencapai Rp454,35 miliar. Dengan demikian, rasio cakupan NPL atau NPL Coverage Ratio berada di level 206,05%.
Secara sederhana, angka tersebut berarti cadangan kerugian kredit yang tersedia lebih dari dua kali nilai nominal kredit bermasalah yang tercatat.
Risk Snapshot
NPL Gross 1,64% | NPL Net 0,65% | NPL Coverage 206,05%
Permodalan: CAR 74,54%
Salah satu aspek yang menonjol dari neraca SUPA adalah tingkat permodalannya. Rasio Kecukupan Modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sebesar 74,54% per 30 Juni 2026.
Total ekuitas perseroan mencapai Rp8,26 triliun, meningkat dari Rp8,16 triliun pada akhir 2025.
Struktur ekuitas tersebut terutama terdiri dari:
- Modal saham biasa: Rp3,39 triliun.
- Tambahan modal disetor: Rp5,54 triliun.
Defisit Saldo Laba Mulai Menyusut
Perkembangan penting lainnya adalah berkurangnya defisit saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya.
Defisit tersebut menyusut dari -Rp846,30 miliar pada akhir 2025 menjadi sekitar -Rp663,70 miliar per 30 Juni 2026.
Penurunan defisit tersebut sejalan dengan perolehan laba bersih sebesar Rp182,61 miliar sepanjang Semester I 2026.
Kesimpulan: Fundamental SUPA Semester I 2026
Semester I 2026 menunjukkan pertumbuhan yang kuat pada sejumlah indikator utama SUPA. Laba bersih meningkat 790,42% YoY menjadi Rp182,61 miliar, sementara NII tumbuh 51,94% menjadi Rp1,01 triliun.
Dari sisi neraca, kredit bruto tumbuh 39,70% YTD menjadi Rp13,44 triliun dan total aset meningkat 26,89% menjadi Rp27,01 triliun. Pertumbuhan kredit tersebut juga didukung pertumbuhan DPK sebesar 34,67% menjadi Rp15,93 triliun.
Dari sisi risiko, NPL Gross 1,64%, NPL Net 0,65%, serta NPL Coverage 206,05% menjadi indikator penting dalam menilai kualitas portofolio kredit.
Sementara itu, CAR sebesar 74,54% menunjukkan posisi permodalan yang sangat besar. Defisit saldo laba juga terus menyusut seiring meningkatnya laba bersih perseroan.
Namun, terdapat beberapa hal yang tetap perlu dipantau pada periode berikutnya. Pertama, porsi deposito yang mencapai 78,17% dari DPK membuat biaya dana menjadi faktor penting. Kedua, ekspansi kredit yang mendekati 40% perlu diikuti dengan pengawasan kualitas aset agar pertumbuhan tidak diikuti peningkatan NPL secara signifikan.
Dengan demikian, perkembangan SUPA pada Semester II 2026 akan sangat menarik untuk dipantau, khususnya dari sisi pertumbuhan kredit, CASA, cost of funds, NPL, NIM, efisiensi operasional, serta kemampuan perseroan mempertahankan pertumbuhan laba.
Catatan
Artikel ini merupakan analisis informasi keuangan dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Investor tetap perlu melakukan riset dan mempertimbangkan profil risiko masing-masing sebelum mengambil keputusan investasi.